Merengkuh Puing Sisa Badai
Ada sore-sore tertentu ketika langit tampak ragu-ragu, seolah tengah menimbang apakah harus menurunkan sisa badai atau membiarkan matahari sore membakar sisa-sisa kelembapan di aspal jalan. Udara terasa gerah, namun angin yang berembus dari celah jendela membawa aroma petrikor, debu kering yang mendadak direngkuh hujan. Di musim peralihan seperti ini, ketika cuaca tak bisa ditebak dan segalanya terasa serba tanggung, aku sering menemukan diriku duduk terpaku di depan cangkir kopi yang perlahan kehilangan kehangatannya.
Dulu, aku mengira bertahan hidup adalah sebuah pencapaian mutlak. Aku membiarkan diriku diseret oleh waktu, melangkah gontai di atas pecahan kaca masa lalu. Ada masa-masa yang begitu pekat, di mana setiap tarikan napas terasa seperti merangkak di dalam labirin gelap yang dindingnya terus menyempit. Aku terus berjalan, terus memaksakan sepasang kaki ini melangkah, meski kepala ini kosong dan hati telah kebas. Aku tak tahu ke mana ujung jalan ini, atau apakah jalan ini memang memiliki ujung. Aku hanya tahu aku belum mati. Namun, tidak mati rupanya sama sekali berbeda dengan benar-benar hidup.
Aku telah membiarkan babak pertama dalam usiaku melumat habis kewarasan. Kegagalan demi kegagalan, kehilangan demi kehilangan, datang silih berganti bagai gelombang pasang yang menghantam karang rapuh. Dan yang paling menyedihkan dari segala kehancuran itu adalah bagaimana aku bereaksi terhadapnya. Alih-alih merengkuh diriku sendiri yang sedang berdarah, aku justru menjelma menjadi hakim yang paling kejam. Aku mencambuk batinku sendiri, menuntut kesempurnaan di tengah puing-puing, menghukum setiap kelemahan yang muncul. Aku menuntut dunia untuk berubah, menuntut takdir untuk bersikap adil, tanpa menyadari bahwa meninju tembok batu hanya akan meremukkan buku-buku jariku sendiri.
Hingga sore ini, di tengah angin peralihan yang menderu pelan menggetarkan kaca jendela, sebuah kesadaran jatuh serupa rintik hujan pertama di atas genting.
Bagaimana jika kelahiran kembali itu tak membutuhkan kematian fisik? Bagaimana jika lembaran baru itu tak menuntut kita untuk menunggu reinkarnasi di kehidupan selanjutnya?
Aku menatap pantulan wajahku di kaca jendela yang basah. Ada gurat lelah di sana, ada jejak-jejak luka yang tak mungkin terhapus oleh krim wajah semahal apa pun. Namun, menatap mata itu, aku tiba-tiba dihinggapi sebuah rasa iba yang purba. Aku ingin memeluk bahu yang turun itu. Aku ingin berbisik kepada bayanganku sendiri bahwa sudah saatnya kita meletakkan senjata. Sudah saatnya kita berhenti berperang melawan diri sendiri.
Mungkin, satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa usia ini bukanlah dengan menuntut dunia memutar arah anginnya, melainkan dengan mengubah cara mata ini menatap badai. Jika hidup masih berbaik hati menyodorkan hari esok, maka tugas pertamaku adalah memaafkan diriku atas segala babak belur kemarin.
Momen pencerahan itu tidak datang dengan suara terompet dari langit. Ia datang dalam keheningan yang syahdu, bersamaan dengan keputusanku untuk meneguk kopi yang kini telah sepenuhnya dingin. Rasanya pahit, namun entah mengapa, ia membersihkan tenggorokanku.
Di detik inilah, aku memproklamasikan sebuah perpisahan. Aku menanggalkan kulit lamaku yang penuh dengan amarah dan tuntutan. Jika kemarin aku adalah seseorang yang berjalan membabi buta hanya untuk menolak mati, maka hari ini, di sisa sore yang mulai diwarnai semburat jingga keunguan, aku memilih lahir kembali. Kelahiran ini dimulai dari sebuah keputusan sederhana di dalam kepala: esok pagi ketika membuka mata, aku menolak untuk menjadi manusia yang sama dengan yang menangis kemarin.
Komentar
Posting Komentar