Merah Gugur Ujung Senja
Udara sore ini terasa ganjil, menggantung pekat di antara sisa-sisa hujan yang enggan reda dan hawa panas yang mulai merayap naik dari celah aspal jalanan. Musim sedang bimbang berada di batas tipis antara basah yang merendam dan kering yang kerontang persis seperti kebisuan yang merajai ruang keluarga beraroma cengkeh dan kopi tubruk yang kini terabaikan hingga mendingin di atas meja kayu. Di luar kaca jendela yang berembun, sehelai kelopak kembang sepatu berwarna merah darah luruh, terlepas dari tampuknya tanpa suara. Kejatuhannya seolah menjadi pantulan dari helaan napas perempuan yang tengah duduk mematung di sudut sofa beludru, tenggelam dalam pusaran batinnya sendiri.
Perempuan itu diam, tetapi batinnya merapal doa yang bertabrakan dengan rutukan tajam. Matanya menyiratkan sebuah badai yang jauh lebih kelam dari langit mendung yang menggantung di ufuk barat. Ada ribuan ingatan tentang hal-hal remeh tentang aroma buku usang, tawa tertahan di beranda, piring-piring porselen yang berdenting meriap di kepalanya, bertubrukan dengan rindu yang mengalir deras layaknya luka sayat yang kembali terkoyak. Ia merasa dihempaskan, diperlakukan laksana seonggok barang usang yang tiba-tiba dirasa memberatkan sebuah langkah. Di dalam dadanya, sebuah protes membumbung, mencari jalan keluar. Bukankah esensi dari sebuah ikatan adalah tentang berbagi payung yang sama saat hujan badai menderu? Ia tak pernah naif dengan menuntut langit yang terus-menerus cerah tanpa awan. Ia tak gentar jika esok hari ombak akan menggulung keras atau angin puting beliung akan mematahkan ranting-ranting harapan mereka. Ia hanya ingin tegak berdiri di sana, di sisi lelakinya, menelan duka dan lara berdua. Namun, lelaki itu justru memilih memotong tali jangkar, membiarkannya hanyut terasing sendirian dengan alasan klise yang berlindung di balik kata 'menyelamatkan'.
Di seberang ruangan yang mulai diselimuti bayang-bayang senja, punggung lelaki itu tampak sekeras tebing karang, meski sesungguhnya ia teramat rapuh oleh beban tak kasat mata yang dipikulnya. Ia menatap nanar ke arah dahan-dahan basah di luar. Ada ketakutan purba yang mengakar kuat di ulu hatinya; ketakutan akan kegagalan menjadi pelindung bagi perempuan yang paling ia hargai nyawanya. Baginya, menyelamatkan perempuan itu berarti harus tega menjauhkannya dari arena pertarungan hidupnya yang tengah hancur lebur dan compang-camping. Bagaimana mungkin ia sanggup menyeret tangan sehalus sutra itu untuk ikut berdarah-darah melangkah di atas kerikil tajam nasibnya? Musim penderitaan yang harus ia lintasi tampak sangat panjang, berliku, dan menyeramkan. Membayangkan perempuan itu ikut terhuyung-huyung dan jatuh terjerembap bersamanya adalah sebuah siksaan batin yang tak sanggup ia saksikan. Maka, ia memilih jalan sunyi sebagai sang martir. Ia mengunci pintu hatinya rapat-rapat, membiarkan dirinya disalahpahami, berharap luka penolakan hari ini akan terbayar lunas oleh keselamatan perempuan itu di masa depan. Tunggulah di tempat yang aman, sejenak saja, bisik batinnya, getir dan gemetar.
Sungguh sebuah pementasan tragedi yang teramat menyebalkan untuk disaksikan. Dari sudut pandang mana pun, sepasang manusia dewasa ini tengah memainkan lakon melankolia yang menguras energi. Mereka terjebak dalam genre pengorbanan yang usang, mengagungkan kesedihan seolah itu adalah mahkota tertinggi dari sebuah kesetiaan. Sungguh sebuah egoisme yang dibungkus rapi dengan pita manipulatif bernama kasih sayang. Mengapa mereka berdua harus memelihara keras kepala yang mematikan ini? Usia dan garisan tipis di ujung mata semestinya sudah cukup mengajarkan bahwa waktu tak pernah berbaik hati pada mereka yang saling memunggungi dalam diam.
Hidup ini, dengan segala kejutannya yang sering kali mencengangkan dan tak tertebak, bukanlah panggung monolog tempat satu orang menanggung semua derita. Tidak ada pahlawan tunggal dalam sebuah ikatan yang utuh. Sudah saatnya mereka meletakkan segala gengsi, ketakutan, dan asumsi itu di atas meja. Berdiskusilah. Hadapi kenyataan bahwa dunia di luar sana terlalu buas untuk dihadapi dengan dada yang berlubang karena perpisahan. Badai di musim peralihan ini mungkin masih akan merontokkan lebih banyak kelopak merah, tetapi melangkah dengan kaki yang tertatih-tatih akan terasa jauh lebih ringan jika ada pundak yang menemani. Dua hati itu harus sama-sama berjuang dan selamat, untuk merayakan hidup yang keras ini dengan gembira, berdua.
Komentar
Posting Komentar