Menelan Rindu Bersama Kaldu
Udara sore itu menggantung tebal, membawa aroma aspal yang baru saja diseduh oleh hujan yang datang tiba-tiba lalu pergi dengan tergesa-gesa. Ada kelembapan yang mencekik, sebuah tanda dari pergantian musim yang membuat tubuh merasa serba salah; tak cukup dingin untuk merapatkan jaket, namun terlalu pengap untuk sekadar bernapas lega. Di sudut trotoar yang mulai digenangi cahaya kuning dari lampu-lampu jalan, di bawah kepakan terpal biru sebuah kedai tenda yang lelah, ia duduk mematung.
Ia adalah representasi dari wajah-wajah anonim di kota ini, wajah yang guratannya lebih banyak diukir oleh rentetan kesialan daripada garis senyum. Di hadapannya, mengepul uap dari semangkuk mie ayam. Aroma minyak bawang, lada putih, dan kaldu yang pekat menguar, bertarung dengan bau amis knalpot kendaraan yang merayap lamban di jalan raya. Namun, matanya tak melihat mie yang keriting itu, maupun potongan sawi yang layu. Tatapannya menembus mangkuk porselen retak itu, menyelam ke dalam jurang pikirannya sendiri.
Keheningan yang bising di kepalanya mulai merangkai bait-bait melankolia. Entah mengapa, perut yang kosong acapkali memiliki cara yang aneh untuk memanggil keluar jiwa seorang penyair yang putus asa. Ia menatap ke arah lalu lalang manusia, memikirkan konsep-konsep agung yang terasa begitu asing baginya. Apakah pernah, batinnya merintih, ia menjelma menjadi sebuah perasaan yang dirawat dan dipuja sebegitu rupa di relung dada seseorang? Ia membayangkan hal-hal yang tak kasat mata: sebuah tatapan takjub di padang sabana yang sunyi, atau bisikan-bisikan malam di mana eksistensinya dirayakan bagai gugusan konstelasi bintang yang enggan terbenam.
Ia mengingat tawa renyah sepasang kekasih yang sempat ia lihat di halte bus beberapa jam lalu. Ia ingat bagaimana cemburu itu merayap, diam-diam dan mematikan, memaksanya menelan ludah sambil merapal doa para pecundang: seandainya itu aku, seandainya aku yang berada di sana. Ia lelah menjadi penonton di etalase kebahagiaan orang lain. Ia bahkan mulai muak dengan kutipan-kutipan manis yang sering berseliweran, kalimat-kalimat penghiburan naif yang mengatakan bahwa materi tak penting asal hati berlabuh pada kebaikan. Baginya, kalimat itu terdengar seperti dongeng pengantar tidur bagi mereka yang tak pernah berhitung sisa uang koin untuk sekadar membeli makan malam.
Lalu, seolah semesta merasa jengah dengan romantisasi kesedihannya, realitas memukul balik. Sebuah kesadaran atau mungkin sekadar alarm dari lambungnya yang perih menyentaknya dengan kasar. Suara hati nuraninya, yang kini mengambil alih peran dengan nada yang sinis dan mengejek, membuyarkan segala lamunan.
Berhentilah meracau, tegur suara itu dalam kepalanya, setajam pisau daging yang memotong urat nadinya sendiri. Ia menyadari betapa konyolnya drama yang baru saja ia pentaskan di dalam otak. Kemewahan macam apa yang sedang ia tangisi? Fakta bahwa ia masih bisa membeli semangkuk makanan hangat malam ini adalah bentuk keberuntungan yang seharusnya tidak ia khianati dengan sajak-sajak cengeng. Mengapa ia tiba-tiba sibuk mencari-cari rima tentang cinta ketika perutnya merintih menuntut haknya?
Kesepian yang menahun, ia sadari, telah memutarbalikkan logikanya. Rasa lapar telah menyamar menjadi hasrat untuk beromantis-romantisan, sebuah kompensasi atas ruang kosong di sebelahnya yang tak pernah diisi oleh siapa pun. Ia menertawakan dirinya sendiri, sebuah tawa getir yang tertahan di kerongkongan. Fakta telanjangnya adalah: ia belum pernah dicintai sebegitu rupa, dan berpuisi di depan makanan tidak akan mengubah nasibnya.
Udara malam perlahan menyusup masuk melalui celah terpal. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma kaldu untuk yang kesekian kalinya, kali ini dengan kesadaran penuh. Tangan kanannya akhirnya meraih sumpit bambu. Ia mengaduk mangkuk itu, menyatukan bumbu yang mengendap. Seruputan pertamanya adalah sebuah penerimaan. Kuah hangat itu mengalir, memberikan rasa nyaman yang instan, membumikan kembali jiwanya yang sempat melayang. Di kedai pinggir jalan itu, di antara bising roda dan pendar lampu kota, ia belajar menelan realitas bersama gigitan mie pertamanya. Malam masih panjang, dan untuk saat ini, kenyang adalah satu-satunya bentuk cinta yang paling masuk akal.
Komentar
Posting Komentar