Matahari Mengunyah Sang Pengecut

Langit di atas kota tidak lagi memancarkan biru yang kita kenal, melainkan putih yang menyilaukan, seolah matahari telah turun beberapa jengkal lebih dekat untuk memanggang apa saja yang bernapas. Angin yang berembus melintasi celah jendela tidak lagi membawa kesejukan sore, melainkan hawa panas yang meranggas dari pori-pori aspal yang meleleh dan tanah yang retak-retak. Pohon-pohon bungur di tepi jalan merunduk pasrah, daun-daunnya mengering dan luruh sebelum sempat memamerkan warna terbaiknya. Udara terasa begitu tebal oleh debu, kemarau ini terasa lebih buas, lebih purba, seolah alam sedang menghukum kita dengan dahaga yang tak berkesudahan, mencekik paru-paru setiap kali aku mencoba menarik napas panjang.

Di tengah udara yang kerontang dan menyengat ini, ada satu hal yang terasa jauh lebih kering dari kerongkonganku: keberanianku sendiri.

Dalam keheningan kamar yang pengap, pikiranku sering kali melayang jauh menembus lorong waktu, mundur ke sebuah masa puluhan dekade silam. Aku membayangkan sebuah ruangan tua yang diselimuti arsitektur kolonial, di mana udara malam terasa sama beratnya, namun bukan karena cuaca, melainkan oleh ketegangan dan harapan. Di sana, di tengah kepungan bau tembakau cengkeh dan peluh, para pemuda dengan mata menyala-nyala berdiri. Mereka tidak sedang membicarakan cuaca atau panen yang gagal. Mereka sedang membelah sejarah. Dengan kepalan tangan dan dada yang membusung, mereka meneriakkan sebuah ikrar yang menggetarkan fondasi sebuah imperium. Sebuah sumpah untuk meleburkan ribuan perbedaan menjadi satu kesatuan: satu tanah, satu bangsa, dan satu bahasa.

Betapa megahnya sebuah kata ketika ia lahir dari rahim keberanian yang tak kenal takut. Mereka menggadaikan nyawa, melawan ancaman moncong senapan, demi sebuah masa depan yang bahkan belum tentu mereka cicipi.

Lalu, aku menatap pantulan diriku sendiri pada kaca jendela yang buram oleh debu musim kemarau ini, dengan peluh yang menetes lambat di pelipis. Aku hidup di zaman di mana udara kemerdekaan bisa dihirup dengan bebas, di mana kata-kata bisa meluncur tanpa perlu disembunyikan di balik sandi-sandi bawah tanah. Namun, di hadapanmu, aku menjelma menjadi pengecut paling menyedihkan yang mungkin tak akan pernah dicatat oleh waktu.

Jika para pemuda di masa lalu itu mampu mengumpulkan keberanian yang mahabesar untuk merengkuh dan menyatukan sebuah bangsa, mengapa aku bahkan tak memiliki sisa nyali untuk mengucapkan satu sumpah yang sangat sederhana? Sebuah ikrar kecil yang hanya menyangkut nasib dua anak manusia.

Padahal, dalam setiap doa yang kudaraskan dalam diam, saat malam akhirnya menelan matahari yang garang dan menyisakan gerah yang panjang, hanya ada satu nama yang terus-menerus meresonansi di kepalaku. Di tengah cuaca yang membuat segala hal terasa asing, memusuhi, dan serba tak pasti ini, namamu adalah satu-satunya koordinat yang kuingat sebagai tempat pulang. Teduh matamu adalah satu-satunya oase yang luput dari musim kemarau yang brutal ini.

Sering kali aku berandai-andai, memohon pada semesta agar aku diizinkan meminjam setitik saja, seujung kuku saja, keberanian dari para pemuda masa lalu itu. Tentu bukan untuk berdiri gagah di atas mimbar sejarah, atau memimpin pergerakan yang mengubah arah mata angin republik ini. Aku hanya ingin meminjam keberanian itu untuk satu hal yang sangat egois: berdiri tepat di hadapanmu, menatap matamu tanpa berkedip, dan membiarkan suaraku tak lagi gemetar di kerongkongan.

Biarlah buku-buku sejarah milik negara ini terus mencetak dengan huruf tebal tentang pergerakan agung, persatuan, dan ikrar yang mengubah nasib jutaan orang. Itu adalah porsi mereka yang besar. Sedangkan aku, aku masih harus tertatih-tatih belajar mengumpulkan keberanian, hanya untuk menyelipkan satu kalimat pendek di sela-sela kebesaran waktu tersebut.

Sebuah pengakuan yang selama ini hanya berani kubisikkan pada angin kering yang berembus di luar sana. Bahwa di tengah dunia yang sedang dipanggang oleh suhu yang tak masuk akal ini, pernah ada seseorang yang bersusah payah mencari sisa-sisa keberanian dari masa lalu, hanya untuk sanggup mengatakan kepadamu, bahwa ia mencintaimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labirin Pikiran di Sepertiga Malam

Ruang Hening, Saringan Waktu

Doa Sederhana di Hari Lahirmu