Matahari Amnesia Menelan Doa

Udara bergumpal seperti selimut tebal yang ditenun dari abu dan uap panas. Langit menumpahkan terik yang tak kenal ampun, memanggang warna bumi menjadi cokelat kusam dan mengubah tanah menjadi peta retakan yang meranggas. Ini adalah musim ketika alam seolah sedang menjatuhkan hukuman, sebuah kemarau murka yang mengisap habis kelembapan hingga ke sumsum pepohonan. Debu menari-nari dalam udara yang pekat, mencekik paru-paru siapa saja yang masih berani bernapas di bawah matahari yang mengamuk.

Di tengah lanskap yang merekah laksana bibir kehausan itu, ada sesuatu yang datang merayap perlahan. Ia kecil, rapuh, tak lebih dari setitik noda di mata semesta yang tengah mengering. Namun, di dalam dada kecilnya yang bergemuruh, ia membawa sebongkah asa yang begitu purba. Ia melangkah menembus udara yang membakar, menunduk dengan takzim yang mengiris hati, menuju satu-satunya kehidupan yang tersisa di padang gersang itu: sebuah entitas yang memancarkan rona merah beludru.

Entitas itu cantik, menantang udara yang mencekik dengan keanggunan yang ganjil. Namun, kecantikan itu dipagari oleh duri-duri yang meruncing, sebuah perisai atas kelembutan yang tersembunyi. Si makhluk kecil rebah di hadapannya, membungkuk memuja. Ia tidak datang untuk meminta setetes embun atau air yang telah lama lenyap dari muka bumi. Ia datang dengan dahaga yang lebih pekat; ia datang meminta cinta. Ia ingin tahu bagaimana rasanya direngkuh, bagaimana rasanya dicintai, dan ia bersedia belajar mencintai keindahan di hadapannya itu dengan seluruh sisa napasnya.

Namun, keindahan sering kali menyimpan misterinya sendiri di balik lapisan kelopak. Sang jelita merah itu menunduk, menatap sang pemuja dengan pendar mata yang diliputi kabut sendu. Ada iba yang melintas, ada sebutan sayang yang mengalun lembut membelah udara panas, namun sayangnya, ia kopong. Tak ada cinta yang luruh. Tak ada rengkuhan yang ditawarkan sebagai balasan.

Dibiarkannya si makhluk mungil itu mendamba hingga raganya hampir menguap menjadi debu. Dibiarkannya pengharapan itu membentur dinding penolakan yang dingin, meski udara di luar terasa mendidih.

Ketika malam turun, ia tidak membawa kesejukan yang dinanti. Kegelapan hanya mengganti terik dengan pengap yang menindih. Pukul satu dini hari, saat segala makhluk bersembunyi mencari bayang-bayang, sang jelita berduri itu masih terjaga. Sepi datang menyergap, merayap begitu banal dan lembut, menelan jiwanya utuh-utuh dalam keheningan yang memekakkan telinga.

Di titik buta malam itulah, ironi terungkap. Penolakan itu bukanlah sebentuk keangkuhan, melainkan pertahanan dari sebuah jiwa yang remuk. Bagaimana mungkin ia menerima cinta yang begitu utuh dan murni, sementara ia sendiri merasa terlampau sulit untuk dicintai? Batinnya berbisik ngeri. Ia tak tega membiarkan kepolosan sang pemuja jatuh di atas kelopaknya yang terlihat memukau dari luar, karena ia tahu persis apa yang ada di dalamnya. Di balik warna merah beludru itu, raganya meradang oleh masa lalu; pilu yang belum tuntas, dan keraguan yang berkerak menutupi dinding batinnya.

Ia merasa dirinya adalah sebuah ruin, sebuah reruntuhan yang kebetulan masih terlihat utuh dari kejauhan.

Maka, di bawah langit malam yang tak berbintang, di tengah musim yang membakar segala harapan tanpa pandang bulu, sebuah garis akhir ditarik. Sang jelita merah menatap ke dalam pekatnya malam, membiarkan sepi menemaninya, dan dengan getir ia menyimpulkan sebuah akhir bagi sang pendoa: bahwa semua damba, pengorbanan, dan cinta yang ditawarkan kepadanya di tengah dunia yang sekarat ini, hanyalah sebuah kesia-siaan belaka. Sebuah fana dalam kefanaan yang paling sunyi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labirin Pikiran di Sepertiga Malam

Ruang Hening, Saringan Waktu

Doa Sederhana di Hari Lahirmu