Bunga-Bunga di Balik Badai

Angin berhembus membawa udara kering yang meranggas, menyapu dedaunan cokelat yang gugur perlahan di halaman. Ada aroma debu yang tipis, pertanda musim tengah bergeser, membawa serta kemarau yang pelan-pelan menjalar. Di ruang makan ini, cahaya matahari sore jatuh memanjang, menembus kaca jendela dan menyinari secangkir teh kamomil yang sudah lama kehilangan kehangatannya.

Akhir-akhir ini, ada tamu tak diundang yang kerap mengetuk pintu batinku. Sebuah perasaan kosong, semacam hilangnya percik gairah yang biasanya membuat darah mengalir lebih deras. Ia datang mengendap-endap, lalu duduk diam di seberang mejaku, mengubah segala yang kucicipi menjadi hambar. Bahkan di hadapan makanan-makanan yang biasanya memicu letupan rasa di lidah, sepotong kue cokelat pekat atau sepiring pasta dengan taburan keju melimpah, aku hanya bisa termenung. Bersama kesunyian itu, aku sering mendapati diriku merapal semacam pengakuan dosa; menyusun daftar panjang kekalahan, peluang yang terlewat, dan penyesalan-penyesalan kecil yang menumpuk bagai piring kotor di wastafel.

Dalam jeda waktu yang melambat itu, ingatanku terlempar pada pemandangan langit beberapa malam lalu. Kegelapan terbelah oleh siluet bulan sabit yang melengkung angkuh, berdampingan begitu mesra dengan titik benderang Venus. Ahli bintang menyebutnya konjungsi, sebuah tarian kosmik yang langka. Aku berdiri lama di balkon, meresapi keindahannya. Namun, layaknya segala bentuk kebahagiaan dan perayaan di dunia fana ini, pesona itu hanya mampir sebentar. Begitu singkat, lalu tertelan kembali oleh putaran waktu yang tak peduli.

Kini, untuk mengusir senyap, jariku menelusuri layar kaca, membuka jendela menuju ruang maya yang bising oleh parade kehidupan manusia. Di sana, etalase kebahagiaan dipajang sedemikian rupa. Namun, entah mengapa, mataku tidak menangkap riuh rendah kesombongan, melainkan sebuah ironi yang menggetarkan dada. Aku melihat mereka, orang-orang yang tertawa di balik lensa, memamerkan gaun-gaun cantik yang membalut tubuh, atau berpose di kedai kopi berlampu temaram. Sepintas, hidup mereka adalah simfoni yang sempurna.

Namun, jika kau menatap lebih lama, lebih dalam menembus piksel-piksel itu, kau akan melihat ada semacam ketangguhan yang diam-diam berdarah. Aku tertegun melihat betapa hebatnya manusia mengendalikan badai di dalam kepala dan tubuh mereka. Ada kontrol diri yang luar biasa rapi, sebuah pengendalian emosi yang dijahit dengan benang kesabaran.

Mereka adalah malaikat-malaikat tak bersayap yang berjalan di bumi, memikul beban berton-ton yang sengaja mereka sembunyikan dari tatapan iba dunia. Publik hanya melihat senyum dan baju-baju yang terlipat rapi, tanpa pernah mencium aroma antiseptik rumah sakit yang menguar dari pori-pori mereka. Orang-orang tak pernah tahu tentang lorong-lorong dingin klinik kesehatan, wajah lelah para tenaga medis yang menjadi kawan karib, atau lembaran catatan laboratorium yang angka-angkanya sering kali meruntuhkan harapan sebelum fajar menyingsing. Ruang-ruang tunggu yang sunyi itu adalah saksi bisu dari pertarungan mereka yang sepi.

Melihat semua itu, ada rasa perih yang menjalar, namun sekaligus kekaguman yang tak bisa kusembunyikan. Astaga, betapa kerennya mereka. Bagaimana mungkin kelopak-kelopak rapuh itu tetap memaksa untuk mekar, sementara angin topan tengah memorak-porandakan akar mereka?

Dalam diam, aku menengadah pada sisa cahaya sore yang mulai memudar. Aku merapal doa kecil, memohon pada semesta yang maha luas. Jika aku tak bisa membantu memikul beban mereka, tolong, singkirkanlah kerikil-kerikil tajam dari jalan yang harus mereka tapaki. Jangan biarkan kaki-kaki yang sudah lelah itu tersandung jatuh.

Untuk kalian, para pemilik ketegaran yang mempesona, jiwa-jiwa karang yang tak hancur oleh ombak. Melalui angin sore yang kering ini, tak banyak yang bisa kusampaikan selain sebuah mantra yang ditiupkan dari kejauhan. Semoga udara yang kalian hirup membawa kesembuhan. Semoga segala sakit dan ngilu diangkat perlahan-lahan, layaknya kabut yang terusir matahari. Dijauhkan kalian dari mara bahaya yang mengintai, dan semoga, di akhir dari semua kelelahan ini, kebahagiaan menjemput kalian dengan pelukan yang paling hangat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labirin Pikiran di Sepertiga Malam

Ruang Hening, Saringan Waktu

Doa Sederhana di Hari Lahirmu