Tirai Malam Menyimpan Benderang
Malam selalu memiliki caranya sendiri untuk melucuti pertahanan kita. Ketika bising jalanan mereda dan jarum jam seolah bergerak lebih lambat, keheningan justru kerap menjelma menjadi pengeras suara bagi pikiran-pikiran yang paling riuh. Di ruang remang ini, diterangi cahaya lampu jalan yang menembus celah gorden, kita sering kali disadarkan pada satu kenyataan purba: pada hakikatnya, kita hanyalah serpihan partikel usang di semesta yang maha luas ini. Kita adalah bongkahan debu kosmik yang secara ajaib ditiupkan napas, diberi detak jantung, dan dianugerahi satu keistimewaan yang luar biasa, sudah di beri kesempatan untuk memancarkan pendar cahaya kita sendiri di tengah pekatnya semesta.
Namun, menyadari bahwa kita memiliki potensi untuk bersinar tidak serta-merta mematikan kegelapan di dalam kepala. Ada malam-malam panjang di mana halimun tebal turun tanpa permisi, menyelimuti labirin pikiran, membuat pandangan batin menjadi buram. Tidak apa-apa. Adalah sebuah kewajaran yang manusiawi jika di sepertiga malam, Anda mendapati diri Anda duduk termenung, berusaha keras menyingkirkan kabut keraguan yang menggenangi lautan kesadaran. Anda mungkin telah mencoba segalanya. Jemari Anda mungkin lelah memijat pelipis, dan bibir Anda mungkin kering karena terus-menerus merapal doa serta sugesti positif sebagai tameng pelindung.
Namun, terkadang, usapan tangan dan rapalan mantra sekuat apa pun tak mampu mengusir gelisah yang sudah telanjur berakar. Kabut itu enggan pergi.
Di titik pasrah itulah, sebuah kedewasaan perlahan tumbuh. Ketika perlawanan terhadap rasa cemas terasa begitu melelahkan, ada sebuah pilihan lain yang jauh lebih merengkuh jiwa. Bayangkan Anda berjalan perlahan ke dapur, menyalakan kompor, dan mendengarkan desis air yang mendidih. Meracik secangkir kopi dan biarkan aromanya yang membumi, sedikit gosong namun menenangkan, memenuhi udara ruangan. Menyesap kehangatan dari bibir cangkir keramik rasanya jauh lebih beradab dan merawat kewarasan ketimbang terus-menerus menenggak cairan kekhawatiran. Sebab kecemasan hanyalah minuman pahit yang tercekat di kerongkongan; ia tidak menawarkan keindahan apa-apa, tidak memuaskan dahaga, dan sama sekali tak bernilai estetika bagi perjalanan jiwa.
Lebih baik kita duduk diam, berteman kepulan asap tipis dari cangkir tersebut. Dalam laku menunggu yang sabar itu, kita membuka ruang bagi semesta untuk bekerja dengan cara-caranya yang misterius. Siapa yang bisa menduga nasib? Bisa jadi, tepat ketika kita berhenti memaksa keadaan, sebuah kehendak tak kasat mata datang menyapa. Ia hadir serupa hembusan angin malam yang menerobos ventilasi, membawa serta tarian udara sejuk yang perlahan menyapu bersih sisa-sisa kabut di kepala kita.
Oleh karena itu, ketika mata sudah terasa berat dan cangkir telah menyisakan ampas, hal paling revolusioner yang bisa dilakukan seorang manusia adalah menyerah pada kantuk. Tariklah selimutmu. Tidurlah dengan nyenyak, biarkan tubuhmu rebah dan jiwamu mengembara di alam mimpi tanpa beban. Kesehatan fisik dan kewarasan pikiran adalah modal paling berharga yang harus dijaga teguh sampai hari di mana terang itu benar-benar menyingsing.
Sebuah eksistensi yang ditakdirkan untuk bersinar tidak pantas diredupkan oleh kecemasan-kecemasan yang belum tentu terjadi. Jangan biarkan kerut di dahi merampas keanggunanmu. Barangkali, alasan mengapa saat ini semuanya terasa diam dan tertunda adalah karena di balik tirai takdir, semesta sedang bekerja keras. Tata lampu sedang diatur, properti sedang ditata, dan naskah sedang disempurnakan. Panggung besarmu sedang dipersiapkan dengan sangat matang. Dan ketika kelak tirai itu disingkap, pastikan dirimu berdiri di sana dalam keadaan paling sehat, paling siap, dan paling benderang.
Komentar
Posting Komentar