Temaram Kopi Moka
Ada hari-hari di mana kota ini terasa seperti rimba beton yang tiba-tiba menolak kehadiranku. Aku berdiri di tengah persimpangan yang basah oleh sisa hujan sore, merasa seperti seekor primata yang terusir dari habitat aslinya. Bingung, asing, dan kehilangan tempat berpijak. Di sekelilingku, lampu-lampu jalanan mulai menyala, memendarkan cahaya kekuningan yang angkuh, sementara aku merasa seperti sebuah bohlam tua yang filamennya telah putus; aliran listrik itu ada, namun tak lagi mampu mengubahnya menjadi terang. Tungku semangat di dalam dada terasa kehabisan batu bara, menyisakan abu dingin dari tujuan hidup yang kian kabur maknanya.
Belakangan ini, hidup terasa seperti sebuah maraton tanpa garis akhir. Kelelahan yang bersarang tidak lagi sekadar menempati otot dan tulang, melainkan merembes jauh ke dalam pori-pori jiwa. Hal yang paling ironis adalah bagaimana kegagalanku seolah memiliki panggungnya sendiri; ia tak pernah datang diam-diam, melainkan selalu meledak dengan meriah, menertawakan setiap rencana yang telah kususun rapi. Di taman harapanku, tunas-tunas keyakinan yang kusemai dengan doa-doa panjang kini memilih untuk tidur panjang. Mereka mengkerut, bergelung dalam liang tanah, menolak untuk mekar.
Di malam-malam yang panjang dan sunyi, rentetan pertanyaan menjelma menjadi hantu yang duduk di tepi ranjang. Bagian manakah dari diriku yang sebenarnya sedang bertumbuh di tengah musim kemarau ini? Sampai kapan aku harus memeluk lutut dalam ketidakpastian? Mengapa setiap kali jari-jariku nyaris membelai wajah keberuntungan, kesialan selalu datang lebih dulu, menyela seperti tamu tak diundang yang merusak pesta? Aku sering bertanya-tanya, di sudut sebelah mana kesempatan-kesempatan kecil itu bersembunyi, dan bagaimana cara memancingnya keluar?
Orang-orang bijak dan buku-buku motivasi yang sering kutemui di etalase toko kerap berkhotbah bahwa ini semua hanyalah satu babak dari naskah kehidupan. Bahwa penderitaan adalah anak tangga menuju kelas yang lebih tinggi, sebuah proses yang mereka sebut sebagai 'naik level'. Namun, jika ini memang sebuah bagian dari hidup, lantas seperti apa rupa bagian yang lainnya? Aku masih duduk di ruang tunggu, menanti lakon yang katanya menjanjikan kebahagiaan itu.
Terkadang, di tengah keputusasaan yang pekat, aku bisa mendengar suara tawa tertahan di sudut pikiran. Suara kecil yang sinis, merayuku untuk menyerah, mengira aku adalah selembar daun kering yang akan hancur hanya dengan sekali remas. Namun, ia salah. Aku bukanlah manusia yang mudah luluh oleh bujukan keputusasaan, melainkan hanya seorang musafir yang sedang kehilangan kompas di tengah kabut yang merapat.
Entahlah. Aku hanya merapal harap agar kabut-kabut yang menyesakkan ini perlahan terangkat oleh angin pagi. Agar aku bisa kembali meraba tekstur kehidupan, menemukan kembali peta, cahaya, dan makna yang sempat terselip entah di mana. Kegelapan masa depan ini memang sering kali terasa kejam dan brengsek.
Namun, di tengah sengkarut pikiran ini, aku menunduk menatap cangkir di hadapanku. Kepulan asap tipis menguar, membawa aroma perpaduan pahit dan manis yang begitu kukenal. Secangkir Kopi Moka. Mengapa minuman yang warnanya begitu gelap dan temaram ini justru tidak terasa menakutkan? Cairan cokelat pekat itu turun melewati kerongkonganku, meninggalkan jejak hangat yang merengkuh rongga dada. Dalam keheningan kafe yang mulai sepi, Kopi Moka ini seolah menjelma menjadi kekasih yang paling mengerti. Ia tidak menuntut jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ekuivalen hidupku. Ia hanya hadir, menemaniku dalam diam, membuktikan bahwa di dalam sesuatu yang gelap dan pahit, kita masih bisa menemukan kehangatan yang menyelamatkan.
Komentar
Posting Komentar