Ruang Tunggu Sebelum Kopi Dingin

Pagi ini merayap turun bersama kabut yang enggan beranjak dari balik kaca jendela. Udara dingin menyusup lewat celah ventilasi, menusuk tulang, tetapi bukan itu yang membuatku merapatkan kardigan. Ada kebekuan lain yang bermukim di dada. Di hadapan hari yang baru, aku menemukan diriku dalam sebuah pengakuan yang ganjil dan mungkin terdengar sedikit kurang ajar: aku sedang kehabisan kata-kata untuk Tuhan. Ada kalanya, rutinitas spiritual terasa seperti merapal mantra yang tiba-tiba kehilangan daya magisnya. Maka, dalam keheningan yang pekat ini, aku berbisik pada semesta, pada Sang Pencipta yang kutahu tak pernah tidur. Tuhanku, hari ini aku sedang bosan berdoa. Sudilah kiranya Engkau memutar kembali rekaman doa-doaku yang kemarin. Toh, Dia pasti maha memaklumi bahwa manusia yang diciptakan-Nya ini tak lebih dari gumpalan tanah yang rapuh, mudah lelah, dan terlalu dinamis untuk terus-menerus berpura-pura tegar.

Sebagai gantinya, aku melangkah ke dapur, menelusuri lantai keramik yang dingin dengan kaki telanjang. Membiarkan suara air mendidih memecah kesunyian, mengalahkan detak jam dinding yang monoton. Aku meracik secangkir Kopi Moka, sebuah kompromi manis antara kepahitan realita dan setitik pelipur lara. Aroma cokelat pekat yang berpadu dengan ketajaman kopi hitam menguar, menari-nari di udara, seolah menjadi satu-satunya mantra penenang yang kubutuhkan pagi ini. Kopi Moka ini panas, mengepulkan asap tipis yang meliuk-liuk, mengundangku untuk duduk dan melakukan sebuah ritual yang berbeda. Hari ini, aku tidak ingin menatap ke atas meminta petunjuk. Aku ingin menatap ke dalam diriku sendiri.

Di meja kayu yang menyimpan banyak guratan masa lalu, aku menggelar semacam operasi bedah atas jiwaku. Mumpung pagi masih sangat muda, belum dipenuhi hiruk-pikuk, dan segala tuntutan dunia belum mengetuk pintu dengan beringas. Kubiarkan wajah-wajah yang selama ini kusembunyikan di balik senyum artifisial, duduk mengelilingiku. Ada Marah, dengan matanya yang menyala dan napasnya yang memburu, mengingatkan pada ketidakadilan yang kupendam rapat. Ada Sedih, yang pundaknya selalu turun dan matanya terus berkaca-kaca, membawa beban dari luka-luka kecil yang tak pernah kuratapi dengan benar. Dan tentu saja, ada Kecewa, yang menatap kosong ke arah kepulan asap cangkirku. Biasanya, aku mengusir mereka dengan tergesa-gesa. Tapi pagi ini, bersama rasionalitas yang kucoba pertahankan agar tetap jernih, aku ingin mewawancarai mereka satu per satu. Aku, akal sehatku, dan Kopi Moka ini akan membaca data rasa sakit itu pelan-pelan, seperti editor yang menelisik draf naskah yang berantakan.

Dalam dialog sunyi itu, aku kembali melirik ke atas, menembus plafon rumah. "Sepertinya hari ini aku akan sangat sibuk dengan labirin kepalaku sendiri, Tuhan," kataku dalam hati. "Beri aku waktu cuti sejenak dari kewajiban menjadi manusia yang sempurna. Aku jarang menemui-Mu dengan pakaian jiwa yang compang-camping seperti ini."

Aku tahu, ini tak bisa berlangsung selamanya. Aku tak mungkin membiarkan diriku tenggelam dalam pusaran emosi yang melankolis tanpa batas waktu. Aku berjanji pada-Nya, bahwa aku akan kembali. Aku akan menata ulang perasaanku, dan menemui-Nya dengan wajah yang kembali hangat, dengan energi yang menyenangkan, bukan rupa yang muram.

"Tolong, jangan biarkan pemberontakan kecil dan kesendirian ini berlangsung terlalu lama," bisikku pada akhirnya. Perjanjiannya sederhana. Eksplorasi jiwa yang melelahkan ini, pertemuan dengan segala amarah dan kesedihan ini, memiliki batas waktu yang pasti. Ia hanya boleh berlangsung di atas meja kayu ini. Setidaknya, biarkan aku menjadi manusia seutuhnya yang boleh merasa hancur, sampai Kopi Moka di hadapanku ini habis diseruput dalam keadaan tidak kedinginan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labirin Pikiran di Sepertiga Malam

Ruang Hening, Saringan Waktu

Doa Sederhana di Hari Lahirmu