Riuh Langit Merajut Takdir
Aroma petrikor menguar dari celah jendela yang senga kutahan agar tidak tertutup rapat. Sore ini, kota ini sedang meluruhkan kelelahannya di bawah guyuran gerimis yang rapat dan abu-abu. Dari lantai dua kamar ini, aku menatap ke bawah, pada payung-payung kembang kempis yang bergerak tergesa, pada lampu-lampu merah kendaraan yang membiaskan cahaya di atas aspal basah. Setiap orang bergegas menuju tujuannya masing-masing, membawa beban, harapan, dan mungkin, doa-doa yang belum sempat terjawab.
Menatap lautan manusia itu, tiba-tiba aku disergap sebuah pemikiran ganjil. Di tengah kesenyapan kamarku yang hanya diisi detak jam dinding dan kepulan uap dari secangkir kopi hitam yang mulai mendingin, aku mencoba membayangkan apa yang sedang terjadi di atas sana. Di balik awan-awan tebal itu. Pernahkah kita sungguh-sungguh memikirkan betapa sibuknya Sang Penata Takdir?
Barangkali, di ruang kerja semesta yang tak terjangkau mata, tidak ada yang namanya keheningan. Yang ada hanyalah sebuah birokrasi kosmik yang luar biasa rumit. Langit sedang sibuk mengatur lalu lintas kehidupan yang jauh lebih ruwet dari persimpangan jalan mana pun di bumi. Setiap detik, ada rantai-rantai kejadian yang harus diikat, dilepaskan, atau disilangkan dengan presisi yang mengerikan.
Ada hukum sebab-akibat yang menjalar seperti akar pohon beringin tua. Jika seandainya hari ini perempuan berpayung merah di seberang jalan itu memutuskan untuk berteduh sebentar di kedai kopi, ia mungkin akan bertemu dengan seseorang yang kelak mengubah garis hidupnya. Jika ia memilih terus berjalan menembus hujan, jalan hidupnya akan membelok ke arah yang sama sekali berbeda, memotong garis nasib puluhan orang lain. Begitulah seterusnya. Kemungkinan-kemungkinan itu meranting tanpa batas, dan semuanya harus diurus, dijaga keseimbangannya.
Astaga, napasku sedikit tertahan menyadari skala kerumitan ini. Penduduk bumi berjumlah lebih dari delapan miliar jiwa. Delapan miliar isi kepala yang memproduksi keinginan setiap detiknya. Aku nyaris yakin, jika semesta bisa merasakan pening, maka Ia sedang memijat pelipis-Nya sekarang. Belum lagi jika kita menghitung suara-suara yang mengangkasa tanpa kenal jeda. Setiap pagi, doa-doa dilambungkan. Setiap malam, rintihan luka, rutukan kemarahan, hingga tangis kehilangan membumbung menembus atmosfer.
Langit tidak pernah benar-benar tidur. Langit dipenuhi lalu lintas asa dan keputusasaan yang bising. Terkadang, dalam diamku, aku merasa iba. Semesta harus menampung kakofoni suara-suara keras dari miliaran manusia yang rapuh sekaligus tak sabaran; manusia-manusia yang menuntut agar keinginan mereka dikabulkan detik itu juga, seolah keajaiban bisa dipesan layaknya makanan cepat saji melalui aplikasi. Sungguh sebuah keajaiban bahwa Sang Pemilik Waktu tidak pernah kehilangan kesabaran menghadapi kita.
Kesadaran ini perlahan merayap masuk, menghangatkan rongga dadaku yang belakangan ini dipenuhi udara dingin bernama kekecewaan. Aku mulai memakluminya. Aku mulai memaklumi mengapa harapanku, sebuah doa kecil yang terus kurapal setiap malam sebelum memejamkan mata belum juga mewujud. Bukan karena aku dilupakan, dan bukan pula karena doaku terbuang sia-sia.
Barangkali, rute menuju kehidupanku belum selesai dibangun. Di langit sana, mungkin memang belum ada jalan tol bebas hambatan yang bisa mengantarkan setiap jawaban secara instan. Permintaanku sedang mengantre di persimpangan kosmik, merayap perlahan memberi jalan bagi takdir-takdir lain yang harus lebih dulu bertaut. Atau mungkin, doaku sedang diracik dengan takaran waktu yang paling presisi, agar jatuhnya tidak melukai, melainkan menyirami.
Aku menyesap kopi yang kini telah benar-benar dingin, lalu menutup jendela dengan perlahan. Mulai hari ini, aku memutuskan untuk tidak lagi merajuk pada waktu. Jika Dia yang di atas sana mampu bersabar mengurai benang kusut kehidupan miliaran manusia tanpa henti, maka wajar saja jika aku manusia fana yang hanya secuil debu di galaksi ini harus belajar merengkuh kesabaran yang sama. Aku akan duduk di sini, sedikit lebih lama, terus merawat harapan, dan menunggu dengan tenang hingga doaku turun membasahi bumi, tepat pada musimnya.
Komentar
Posting Komentar