Menyesap Pening di Serambi
Sore itu, aroma petrikor menguar begitu pekat, menyelinap masuk perlahan dari celah bingkai jendela kayu yang sengaja kubiarkan setengah terbuka. Hujan baru saja reda setelah berjam-jam mengguyur kota, menyisakan jejak titik-titik air yang menggantung enggan jatuh pada ujung dedaunan mangga di pekarangan. Sambil menyesap secangkir teh kamomil yang perlahan mulai kehilangan kehangatannya, pikiranku mengembara liar pada sebuah perenungan usang. Sebuah kesadaran tentang betapa rentannya kita sebagai manusia, yang sering kali dengan ceroboh mencari-cari tempat bersandar. Kita acap kali lupa, atau mungkin sengaja menutup mata, bahwa menyandarkan seutuhnya beban eksistensi pada manusia lain bahkan pada diri kita sendiri di masa lalu adalah laksana membangun sebuah rumah peristirahatan yang megah di atas gundukan pasir yang terus-menerus bergeser.
Mengapa fondasi manusia itu begitu rapuh untuk diandalkan? Jawabannya sederhana, sekaligus teramat rumit: karena kita adalah makhluk yang hidup. Dan segala yang hidup akan senantiasa bernapas, berdenyut, dan terus-menerus bermetamorfosis tanpa permisi. Manusia bukanlah tugu batu pualam yang berdiri bisu dan tak lekang oleh waktu di persimpangan jalan kota. Di dalam rongga dada setiap dari kita, bersemayam labirin paradoks yang tak berujung gelapnya. Hari ini kita mungkin mendamba pelukan yang erat dan rasa aman dari keramaian, namun esok hari kita bisa saja memberontak ganas, menuntut kebebasan yang mutlak dari segala bentuk ikatan.
Ada tesis dan antitesis yang tiada henti bertarung di dalam kepala kita, menciptakan riuh yang tak terdengar orang lain. Ruang batin kita, dengan segala keterbatasannya, acap kali terlalu sesak dan teramat kerdil untuk memproses jutaan informasi, menelan pahitnya ekspektasi, serta mengelola ragam kekecewaan yang datang silih berganti bak gelombang pasang di lautan malam. Pada akhirnya, kita sungguh terlalu kompleks untuk dijadikan satu-satunya jangkar penyelemat bagi jiwa yang lain.
Lalu, di tengah hiruk-pikuk dan badai kontradiksi jiwa ini, pelampung kewarasan seperti apa yang tersisa untuk kita peluk erat? Jawabannya mungkin bersembunyi pada seni yang mulai banyak dilupakan orang: seni menyederhanakan kehidupan. Layaknya seorang tukang kebun yang bijak dalam merawat pekarangan rumahnya di peralihan musim pancaroba. Langkah pertama yang paling krusial adalah berdamai dengan kenyataan bahwa kita, dan mereka yang berada di sekeliling kita, hanyalah segumpal daging yang bernapas dan sangat bisa didera lelah.
Kita hanya perlu memusatkan perhatian untuk memastikan tanah di halaman kita sendiri tetap gembur. Siramilah rumpun melati di terasmu agar ia tetap sudi mewangi, dan cabutlah rumput-rumput liar yang diam-diam mencekik akar ketenanganmu. Jangan pernah memaksakan diri melompati pagar bambu hanya untuk merapikan taman tetangga yang bukan wilayahmu, betapapun berantakannya taman itu di matamu. Kenali lekat-lekat aliran angin dan energi yang berembus di sekitarmu. Jika udara mulai terasa pengap, dan energi yang dibawa oleh orang-orang di sekelilingmu mulai menebarkan aroma toksik yang memuakkan lambung, beringsutlah mundur. Menjauh dan menjaga jarak bukanlah sebuah bentuk kekalahan yang hina, melainkan sebuah proklamasi paling berani atas perlindungan diri sendiri.
Namun, ah... kehidupan selalu gemar menyuguhkan plot ironinya sendiri, bukan? Secerdik apa pun kita membentengi diri, serapi apa pun kita menyapu dedaunan kering di halaman kewarasan, selalu ada satu sudut rahasia di dalam dada di mana logika mengalami kelumpuhan total dan hati bersikukuh untuk menjadi bebal. Pertanyaannya kemudian mengambang di udara layaknya asap rokok yang tipis: bagaimana jika, setelah segala pertahanan kokoh yang kita bangun tegak, separuh dari jiwa kita masih saja terpaku menanti di teras depan? Menunggu dengan kepasrahan yang menyedihkan, mengharapkan ketukan pintu dari seseorang yang bahkan tidak pernah satu detik pun berniat menjadikan kita sebagai rumahnya. Seseorang yang tak pernah, dan mungkin tak akan pernah, mencintai kita sama sekali.
Terhadap pertanyaan yang mengiris ulu hati ini, semesta biasanya hanya membalas dengan keheningan yang panjang atau senyum simpul yang teramat misterius. Tidak akan pernah ada resep dari dokter spesialis mana pun, atau ramuan penawar mujarab yang mampu meredakan jenis kebodohan yang satu ini. Mengharapkan cinta dari sebuah ruang hampa adalah murni sebuah pilihan sadar untuk memeluk luka.
Maka, jika kau bertanya apa yang harus dilakukan? Jadilah manusia yang lapang dada dalam menerima kekalahan. Telan saja ludahmu yang terasa getir itu. Duduklah yang tenang di kursimu, resapi rasa pening dan sensasi kebas yang perlahan merambat dan menyesakkan rongga dada. Biarkan rasa pusing yang menumpulkan akal sehat itu lewat dan menguap dengan sendirinya, laksana kabut pagi yang pasrah dihalau terik matahari. Nikmati saja rasa plenger-nya, rasa pening dari kebodohan itu. Sebab pada titik paling nadir dari keputusasaan yang kita rawat sendiri itu, kita justru tengah merayakan esensi paling murni dari kemanusiaan kita yang rapuh.
Komentar
Posting Komentar