Mekar di Runtuhan Rencana
Aroma tanah basah setelah hujan di penghujung Maret selalu memiliki cara klandestin untuk menyeret ingatanku mundur pada sebuah buku catatan bersampul kulit kusam. Dulu, di lembar-lembar bernapas apek itu, aku pernah menata hidup layaknya seorang arsitek angkuh yang menggambar cetak biru sebuah katedral agung. Aku merancang linimasa dengan presisi yang hampir menakutkan: lima, sepuluh, lima belas, hingga dua puluh tahun ke depan. Tinta hitamnya menggoreskan kepastian tentang di titik koordinat mana aku harus berdiri kelak, udara seperti apa yang pantas kuhirup, hingga detail-detail banal tentang rutinitas pagi yang akan kujalani. Semuanya tertulis rapat, rapi, tanpa menyisakan ruang bernapas untuk sebuah koma yang salah tempat atau takdir yang melenceng.
Pada masa itu, aku memandang realitas yang tengah kuhidupi hanyalah sebuah ruang tunggu yang pengap. Sebuah persinggahan sementara yang tak pantas mendapatkan koper yang terbuka penuh, apalagi hati yang menetap. Aku melabeli fase itu sebagai batu loncatan yang teramat kerdil; sebuah halte berdebu yang hanya kusinggahi sembari menanti kereta utamaku tiba. Tak ada niat sedikit pun untuk membiarkan akar-akarku menjalar ke dalam tanahnya. Aku bergegas, terobsesi pada dogma tentang hidup yang harus maksimal, efisien, dan efektif. Setiap detik yang berlalu tanpa pencapaian terasa seperti ketukan palu hakim yang menghukum. Hidup, di mata masa mudaku yang buta dan menyala-nyala, adalah sebuah deret ukur matematis yang harus dipecahkan secepat mungkin.
Namun, waktu selalu memiliki selera humor yang berlapis, kelam, dan tak tertebak. Tahun-tahun meluruh serupa daun-daun ketapang yang meranggas di puncak kemarau, dan kereta megah yang kutunggu tak pernah datang mengikuti jadwal yang kubuat sendiri. Rupanya, kelindan nasib tak pernah bekerja menuruti garis lurus yang digambar oleh seorang pemuda yang kelewat percaya diri. Hidup, dengan segala keangkuhan misterinya, meruntuhkan cetak biru di buku catatan itu perlahan-lahan, membiarkannya tenggelam di laci terbawah, tertimbun debu dan kenyataan.
Untuk menutupi rasa getir dan ego yang memar, aku mulai membungkus realitas dengan nama-nama baru yang terdengar lebih bersahabat. Terkadang, demi menghibur diri di tengah malam yang senyap, kusebut tempat singgah ini sebagai wahana bermain yang riuh, tempatku menjajal berbagai peran. Di hari-hari lain yang terasa lebih mencekik, aku menamainya sebagai sebuah perguruan tinggi kehidupan yang kejam, yang menuntut uang kuliah berupa air mata, keringat, dan jam tidur yang terampas. Aku menipu diriku sendiri, hingga suatu hari aku tersadar: aku telah menua di halte berdebu ini.
Ada sebuah perasaan ganjil yang menyergap rongga dada setiap kali aku menyeduh kopi pekat di pagi hari; semacam kesadaran brutal bahwa aku telah selamat dari badai, namun di saat yang sama, ada bagian dari diriku yang telah mati. Pemuda dengan buku catatan bersampul kulit dan rencana dua puluh tahunnya itu telah lama terkubur. Kami mati dan lahir kembali secara bersamaan dalam satu tarikan napas. Sebuah kematian ego yang secara mengejutkan melahirkan penerimaan yang hening.
Kini, aku tak lagi menghitung sisa waktu atau mengukur jarak ke tujuan berikutnya. Aku menghirup dalam-dalam aroma kopi yang mengepul, menyadari bahwa hidup bukanlah tentang seberapa cepat kita berlari, melainkan seberapa dalam kita berani menancapkan akar. Di sela-sela dentang jam dinding yang tak lagi memburuku, aku menemukan sebuah mantra baru yang diam-diam kurawat. Sebuah pemahaman pelan bahwa di petak tanah mana pun nasib melemparkanku, entah di tanah gembur yang hangat atau di celah aspal yang retak dan dingin. Aku akan memilih untuk merawat napas. Aku akan mengizinkan diriku untuk hidup utuh, membiarkan akarku memeluk bumi yang sempat kuanggap asing ini, dan terus tumbuh menjalar ke atas. Lalu, kelak, jika musim berbaik hati memberikan cahayanya, aku akan mekar dengan warna yang bahkan tak pernah sanggup kutuliskan dalam rencana masa mudaku.
Komentar
Posting Komentar