Kasur Tua dan Pagi yang Setia

Aroma tanah basah bercampur karat dari atap seng yang mengelupas selalu menjadi hal pertama yang menyambutku setiap kali gembok kamar kos ini kubuka. Pukul dua dini hari, ketika kota ini akhirnya kehabisan napas setelah seharian mengunyah dan meludahkan orang-orang sepertiku. Aku melonggarkan kerah kemeja yang lepek oleh keringat bercampur debu jalanan. Di dalam ruang sempit berukuran tiga kali tiga meter ini, udara terasa pekat, menyimpan napas kelelahan dari hari-hari yang panjang dan berulang.

Orang-orang di gedung-gedung kaca yang menjulang itu kerap berbicara tentang lompatan besar, tentang ambisi menaklukkan dunia. Namun di ruangan ini, di bawah lampu bohlam lima watt yang pendar cahayanya kekuningan bak warna tembakau lama, ukuran sebuah perjuangan memiliki definisinya sendiri. Perjuangan bukanlah selalu tentang memenangkan peperangan besar; seringkali ia menjelma dalam bentuk menolak untuk kalah pada rasa putus asa. Menabung sisa uang makan untuk membeli payung agar tidak lagi berteduh di kolong jembatan saat hujan deras, itu adalah sebuah perubahan. Perubahan yang teramat kecil, nyaris tak kasatmata bagi dunia yang bergerak terlalu cepat, namun layak dirayakan dengan secangkir kopi hitam dan embusan napas lega.

Di cermin kusam yang tergantung miring di dinding retak, aku menatap pantulan diriku. Kantung mata yang menggelap dan garis-garis wajah yang menegang. Bertahan hidup kadang terasa seperti mengumpulkan serpihan vas yang pecah, mencoba merekatkannya kembali meski tahu bentuknya takkan pernah sama. Namun, dari celah-celah retakan itulah kemanusiaan kita diuji dan dibentuk. Sesuatu yang patah tidak kehilangan haknya untuk menjadi indah. Keindahan tidak melulu milik hal-hal yang mulus, licin, dan terpoles rapi di etalase toko. Ada keindahan yang ganjil dan memikat pada wajah-wajah lelah yang masih bisa menyunggingkan senyum di akhir hari; pada tangan-tangan kasar yang tetap menengadah merapal doa.

Dan alam, dengan kebijaksanaannya yang purba, tampaknya memahami hal itu lebih baik daripada manusia mana pun. Setiap kali malam merayap pergi, meninggalkan embun yang menempel pada kaca nako berdebu, fajar tak pernah gagal memenuhi janjinya. Matahari selalu terbit, memancarkan semburat jingga kemerahan yang perlahan mengusir pekat. Cahaya itu tidak pernah memilih-milih tempat berlabuh. Ia tidak hanya menghangatkan permadani tebal di rumah-rumah mewah, tetapi juga menyusup masuk melalui celah ventilasi kamarku, jatuh tepat menyinari lantai semen yang permukaannya mulai berlubang. Matahari tidak pernah melewatkan mereka yang hanya memiliki remah-remah kehidupan. Ia menyapa dengan hangat jiwa-jiwa rapuh yang memutuskan untuk sekadar bertahan hidup satu hari lagi.

Kutatap sudut ruangan di mana cahaya pagi itu kini beristirahat. Di sanalah teronggok sebuah kasur busa yang usianya mungkin lebih tua dari segala kelelahanku. Ia sudah kehilangan bentuk aslinya; melesak di bagian tengah seolah-olah menyerah pada beban gravitasi dan berat tubuhku selama bertahun-tahun. Permukaannya kasar, dengan noda-noda kecokelatan yang membentuk peta pulau-pulau antah berantah—saksi bisu dari keringat, air mata, dan demam yang pernah kulewati sendirian di ruangan ini.

Kasur itu jelek. Sangat jelek dan menyedihkan. Siapa pun yang melihatnya mungkin akan langsung melemparkannya ke tempat pembuangan akhir.

Namun, di atas benda usang itulah tubuhku yang remuk redam menemukan satu-satunya suaka. Ia tidak pernah menolakku, betapapun bau dan kotornya aku sepulang kerja. Melihatnya terbaring bisu dalam kerentaan, ada semacam perih yang asing mengalir di dadaku. Di tengah segala ketidakmampuanku untuk merengkuh kehidupan yang lebih baik, aku menyimpan satu janji yang kurawat diam-diam.

Suatu hari nanti, ketika simpananku cukup, aku tidak bermimpi membeli televisi atau lemari baru. Aku hanya ingin pergi ke pasar, berjalan di lorong-lorong kain yang harum, dan membeli sebuah sprei yang paling bagus. Mungkin yang berbahan katun lembut dengan warna biru laut yang tenang, atau bermotif sulur daun yang rindang.

Aku akan membawanya pulang, menyetrikanya hingga rapi, dan memakaikannya pada kasurku yang jelek itu. Bukan semata-mata untuk memanjakan kulitku sendiri, tetapi sebagai bentuk penghormatan. Agar kasur tua itu adalah satu-satunya kawan yang memeluk rapuhku setiap malam dan memiliki pakaian yang pantas. Biar dia tidak merasa malu dan merasa hina saat tubuhku membaringkan kelelahannya di sana. Di ruangan ini, mungkin kemiskinan bisa merampas banyak hal, tetapi ia tidak akan pernah kuizinkan merampas martabat dari hal-hal kecil yang menyelamatkanku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labirin Pikiran di Sepertiga Malam

Ruang Hening, Saringan Waktu

Doa Sederhana di Hari Lahirmu