Doa Menjelma Sangkar Sepi

Hujan senja turun perlahan, mengetuk-ngetuk kaca jendela kayu jati di rumah kita, membawa aroma tanah basah dan petrikor yang diam-diam menyelinap ke sela-sela ruang tamu. Di hadapanku, kau duduk terpekur, bagai sebuah manuskrip tua yang kelelahan dibaca oleh waktu. Kemejamu kusut masai, menyisakan jejak bau keringat yang bercampur dengan dinginnya pendingin ruangan dari gedung-gedung tinggi yang mengurungmu sejak pagi. Ada sepasang mata yang kehilangan pijarnya di wajahmu, tergantikan oleh semacam kabut pekat kelabu yang tak sanggup kutembus. Kau tampak seperti seseorang yang sedang memikul separuh beban bumi di bahunya, terus-menerus merajut benang-benang kesibukan yang rasanya tak pernah mengenal kata tamat.

Sini, kemarilah. Mari letakkan sejenak segala sengkarut duniawi itu di luar pintu. Tinggalkan dulu tumpukan dokumen yang menuntut untuk ditandatangani, derik notifikasi gawai yang beringas, dan keharusan-keharusan tak kasat mata yang membelenggu pergelangan kakimu. Duduklah di sini, tepat di sampingku. Biarkan udara sore yang melankolis ini mengisi paru-parumu yang kulihat semakin hari semakin sesak oleh rutinitas yang mekanis. Mari kita bernapas sejenak, tanpa perlu dikejar oleh detak jarum jam yang seolah bertransformasi menjadi algojo bagi hidupmu sendiri.

Pernahkah kau memutar waktu dalam ingatanmu, melesat mundur menuju hari-hari di mana kau bersimpuh di sepertiga malam dengan tangan yang gemetar? Berpuluh-puluh purnama yang lampau, kau pernah merapal doa yang sama dengan begitu khusyuk. Kau meminta, memohon, bahkan nyaris merengek kepada semesta untuk sebuah kehidupan yang mapan. Kau menginginkan sebuah pekerjaan yang bisa kau andalkan, sebuah rutinitas yang menjauhkanmu dari jurang ketidakpastian yang dulu sering menggerogoti lambungmu karena cemas.

Hari ini, kau merutuki hal-hal yang dulu kau tangisi dalam sujud. Tidakkah kau menyadari sebuah ironi yang teramat ganjil? Bahwa kehidupan yang hari ini terasa begitu monoton, membosankan, dan mencekik nadimu ini, barangkali adalah wujud paling nyata dari doa-doamu sendiri yang dulu sempat terbengkalai dan menganga di langit-langit kamar. Doa-doa itu akhirnya jatuh, mewujud daging, dan menjelma menjadi hari ini.

Lalu, mengapa kehidupan yang telah mengabulkan permintaannya ini, kini begitu posesif merenggut tawamu? Bagaimana rasanya kini, setelah segala penantian panjang dan debar dada yang mengiringi permohonan itu, kau akhirnya berdiri di jantung kenyataan yang kau minta? Apakah hidup masih menyajikan pendar kegembiraan yang sama seperti saat kau pertama kali membayangkannya? Ataukah, kau hanya sedang terjebak dalam jaring laba-laba kebosanan yang lahir dari rahim kebiasaan? Kita acap kali menjadi makhluk yang terlalu terbiasa memiliki, hingga kita lupa bagaimana seninya merindukan dan menghargai. Kau mulai dikuasai oleh dahaga-dahaga baru, keinginan-keinginan asing yang kembali menuntut untuk diwujudkan, sementara anugerah besar yang sudah bersemayam di genggaman tanganmu mulai membusuk karena tak pernah lagi kau rayakan dengan rasa syukur.

Aku selalu mengimani pepatah kuno bahwa bekerja adalah sebentuk ibadah, sebuah laku spiritual tertinggi untuk merawat kehidupan yang dititipkan oleh Sang Pencipta. Namun, jika ini memang ibadah, bukankah seharusnya ada kecantikan dan keanggunan di dalamnya? Bukankah seharusnya ia dijalankan dengan hati yang berdansa dan dada yang lapang? Nyatanya, kulihat wajahmu kian hari kian muram. Kau menjalaninya seolah-olah kau sedang melakoni sebuah hukuman pengasingan di Siberia, bukan sedang merayakan jawaban dari doa-doamu sendiri. Sudah terlampau lama aku tidak melihatmu pulang dengan binar mata yang jenaka. Aku merindukan saat-saat di mana kau melempar rayuan-rayuan kecil yang lucu, kelakar receh yang menggemaskan, yang dulu selalu berhasil melucuti kelelahanku. Kau perlahan berubah menjadi mesin yang lupa caranya menjadi manusia.

Mungkin, pada hakikatnya, kita hanyalah makhluk-makhluk yang lucu dan penuh paradoks. Tidakkah kau merasakannya juga, kawan? Perasaan ini sungguh menggelitik sekaligus menampar. Kita menangis meraung-raung meminta sesuatu, lalu mengeluh lelah saat sesuatu itu akhirnya mengikat kita. Rasanya persis seperti sepasang kekasih remaja yang bertengkar hebat, dengan pongah meminta putus di bawah guyuran hujan, lalu malamnya meringkuk di sudut ranjang karena didera rindu yang tak tertahankan hingga rasanya ingin mati. Sungguh sebuah drama yang konyol.

Maka, minumlah teh hangatmu ini. Mari kita tertawakan kebosanan kita sejenak, meresapi ironi kehidupan yang menggelikan ini. Agar esok pagi, saat kau harus kembali menembus hiruk-pikuk kota dan memeluk rutinitas, kau melakukannya sebagai manusia yang penuh syukur, bukan lagi sebagai mesin yang kehabisan daya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Labirin Pikiran di Sepertiga Malam

Ruang Hening, Saringan Waktu

Doa Sederhana di Hari Lahirmu