Sejak kapan tubuh ini, seonggok daging dan tulang yang rentan terhadap waktu, menempatkan kopi sebagai penanda paling esensial bagi permulaan dan transisi? Aku tak ingat. Yang kuingat, setiap subuh yang merayap, sebelum dunia benar-benar sadar akan dirinya, sebelum janji-janji harian mulai menuntut pelunasannya, ada sebuah ritual hitam, sebuah perjanjian sunyi yang harus ditepati.
Pahit itu. Pahit yang jujur, tanpa tedeng aling-aling gula yang memanjakan. Secangkir kopi panas pahit di pagi hari adalah peluru pertama yang kutembakkan ke dalam lambung. Bukan sekadar kafein, melainkan sebuah injeksi keberanian yang mendefinisikan batas antara 'Aku yang Tidur' dan 'Aku yang Bekerja'. Ia adalah bentukan cair dari kesiapan mental, asapnya membawa aroma ancaman bahwa hari ini, lagi-lagi, tak akan mudah. Pahit yang melekat di lidah itu adalah pengingat bahwa realitas tidak pernah semanis dongeng. Dan dengan tegukan pertama, aku pun secara resmi menjejakkan kaki di medan perang harian, membawa diri yang terselenggara oleh si hitam pekat.
Ketika matahari telah meninggi, dan bayang-bayang mulai memendek di bawah tekanan jam makan siang, datanglah jeda yang rapuh. Perut terisi, namun kelopak mata terasa ditarik oleh gravitasi mimpi-mimpi yang belum usai. Inilah saatnya si Dingin datang. Es kopi hitam. Ia bukan lagi filsuf yang membisikkan kepahitan eksistensi, melainkan cambuk dingin yang praktis. Dinginnya menyengat, membuatku tersentak dari godaan lelap, sebuah tindakan mekanis yang murni fungsional: membunuh kantuk agar mesin otak bisa kembali berputar. Segelas es, mencair dalam kecepatan yang ganjil, seolah menyimbolkan waktu yang selalu lolos dari genggaman. Aku menenggaknya seolah menenggak sumpah untuk tidak menyerah pada kelambanan.
Sore harinya, setelah kepala terasa penuh oleh desakan klien, tuntutan pekerjaan, dan jeritan sunyi isi hati nurani yang terbungkam, tibalah fase relaksasi—sebuah kompromi yang manis. Kopi susu kekinian. Manis yang berlebihan, susu yang lembut, ia adalah kepalsuan yang diizinkan. Secangkir pengakuan bahwa aku lelah, bahwa aku butuh pelukan dari rasa yang tidak mengancam. Si manis ini adalah jeda yang penuh kasih, selimut yang menenangkan jiwa yang baru saja didera realitas yang brutal. Aku menyesapnya perlahan, membiarkan gula dan lemak menciptakan lapisan tipis penenang di atas luka-luka emosional yang tak kasat mata. Ini adalah penutup babak 'bertarung' dan pembukaan babak 'merenung'.
Lalu malam datang. Malam yang seharusnya diisi oleh kekosongan, oleh persiapan untuk menyerah pada tidur. Di sinilah, anomali terjadi. Aku memutuskan untuk tidak meminum kopi. Hanya ada sayup-sayup lagu dari pengeras suara bluetooth murahan, sebuah melodi yang ironis: “Kopi Hitam Kupu-Kupu.” Lagu itu seharusnya menjadi lullaby, sebuah ritual untuk meyakinkan diri bahwa semua sudah berakhir untuk hari ini, bahwa sayap kupu-kupu akan membawaku terbang ke lelap yang damai.
Namun, dini hari yang sunyi itu, yang seharusnya menjadi milik Dewa Tidur, menolak untuk menerimaku. Mataku terbuka lebar, menjadi jendela tanpa tirai bagi pikiran yang mulai mengawang-ngawang, lepas dari tali kekang logika. Gelombang demi gelombang kesadaran yang terlampau jernih membanjiri bilik-bilik otak. Hal-hal yang tak pernah terencana, ketakutan yang tak pernah terbayangkan, mulai menari di ruang gelap kamarku.
Di sudut pandangku yang tak berdaya, tiba-tiba saja terbayang alien trekotrekkk dengan bentuk yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu optik Bumi. Kemudian, dalam lompatan kognitif yang absurd, aku terbang menuju galaksi Andromeda, merenungkan jarak yang tak terjangkau. Dari kosmik, pikiranku jatuh ke hal yang paling personal: nasib Tata Surya Saputra, entah siapa dia, dan segala isi di dalamnya. Kenapa aku memikirkan Tata Surya Saputra pada pukul tiga pagi? Kenapa semesta tiba-tiba terasa begitu dekat dan sekaligus tak masuk akal?
Ah, mungkin ini yang disebut dengan sindrom KOPIkiran yang berlebihan. Bukan lagi efek kafein yang tersisa di dalam darah, melainkan residu dari tiga cangkir kesadaran yang terlanjur kuteguk: pahitnya keharusan, dinginnya kepragmatisan, dan manisnya kompromi. Semua itu, ketika dicampur dengan sunyi malam dan lagu yang membuai, menghasilkan sebuah hiper-kesadaran yang menolak istirahat. Aku tidak mabuk kopi, aku mabuk pikiran itu sendiri, yang kini melayang tak berbobot, menuntut penjelasan dari segala isi semesta. Dan malam ini, yang kupunya hanyalah keheningan, dan pertanyaan ganjil: apakah Tata Surya Saputra baik-baik saja?
Komentar
Posting Komentar