Di negeri yang dihuni oleh anomali ini, di mana nasib publik digantungkan pada warna langit, dan warna langit adalah termometer paling akurat dari limpa sang Pemimpin Agung, hidup terasa selalu di tepi jurang—antara merah marun amarah yang mendidih atau ungu pucat keraguan yang melumpuhkan. Tak pernah ada biru langit yang tulus, melainkan biru elektrik yang tegang, siap meledak menjadi hitam kelam tanpa peringatan; sebab di sini, atmosfer bukan hanya lapisan gas, melainkan sehelai tirai emosi yang sangat transparan, dan setiap helaan napas Pemimpin adalah sebuah palet.
Di tengah ketegangan kosmis yang mencekik itu, tinggallah Naiba, sang pengrajin kemalasan, di sebuah rumah yang menuntut syarat interaksi yang paling absurd. Pintu rumahnya, sebuah kayu tua yang engselnya entah terbuat dari apa, hanya akan terbuka jika ia mendengarkan sanjungan, sebuah bisikan puji-pujian yang tulus—atau yang terdengar tulus—dirangkai dengan tata bahasa yang paling mendayu. "Oh, betapa gagah dan arifnya rumah ini, sebuah benteng melankoli yang kokoh," adalah formula ajaib yang harus diucapkan setiap pemesan sebelum daun pintu, dengan dengkingan bangga, menyingkapkan kegelapan ruang di baliknya. Naiba telah menjadikan narsisme sebagai mekanisme keamanan, sebuah filter antara dirinya dan hiruk-pikuk dunia yang terus-menerus bergerak. Ia adalah arsitek keheningan dalam kekacauan.
Di dalam, Naiba duduk dikelilingi artefak keheningan: kemalasan. Ia menjual apa yang paling dicari orang di bawah langit temperamental: jeda. Bukan jeda fisik, melainkan jeda eksistensial, penangguhan sementara atas kesadaran bahwa hidup adalah sebuah parade ketidakpastian. Etalase kerjanya dipenuhi kemasan berbagai rupa. Ada kemalasan bubuk, yang katanya hanya perlu dilarutkan dalam segelas air dingin dan sanggup menunda panggilan telepon penting selama dua jam; ada pula kemalasan versi sachet, yang paling laris dan paling terjangkau, diklaim hanya untuk dipakai hari ini juga, sebuah anestesi temporal yang membiarkan hari berlalu tanpa beban sepeser pun, sebab besok, tentu saja, masalah akan kembali menagih bunganya. Dan di sudut, tersimpan agung dalam kotak mahoni berukir, adalah kemasan jumbo, sari pati penundaan jangka panjang, yang harganya setara dengan tiga bulan gaji seorang pegawai rendahan—sebuah cuti yang bisa disimpan dan digunakan di saat-saat paling genting, ketika langit sudah berwarna ungu-darah dan Pemimpin sedang merencanakan sesuatu yang destruktif.
Naiba, dengan mata sayu seorang perenang yang terlalu lama berada di bawah air, melayani pesanan dengan tenang. Ia tidak pernah tergesa-gesa; bukankah ia penjual kemalasan? "Kau ingin yang mana, Nak?" tanyanya, suaranya serak seperti gesekan kain sutra tua. Para pembeli, dari pegawai kantor yang wajahnya lelah hingga seniman yang kehabisan inspirasi, selalu memilih yang sachet. Mereka butuh pelarian yang murah, singkat, dan dapat dibuang setelah masa berlakunya habis. Mereka tidak sanggup membeli penangguhan permanen; yang mereka butuhkan hanyalah izin untuk tidak peduli, paling tidak sampai matahari terbenam.
Aku sendiri datang dengan rasa penasaran yang menusuk, sebuah dorongan untuk mencoba barang dagangan yang paradoksal ini. Aku ingin merasakan kemalasan yang terukur, yang dapat diaktifkan dan dinonaktifkan seperti sakelar lampu. Bukan kemalasan alamiahku yang timbul dari kekurangan motivasi, melainkan kemalasan yang dibuat, sebuah komoditas yang menjanjikan defisit spiritual yang murni. "Aku ingin yang sachet, Tuan Naiba," ujarku, sambil menyerahkan lembaran uang yang terasa panas di telapak tangan. "Yang hanya untuk hari ini. Aku ingin tahu rasanya menjalani hari tanpa perlu memikirkan warna apa yang akan dipakai langit sebentar lagi."
Saat Naiba mengambil uang itu, tangannya yang kurus menyentuh kulitku sekejap, dan sebuah getaran aneh menjalari, seolah aku baru saja menyentuh inti dari penyerahan diri total. Persis pada saat itu, sachet kemalasan berpindah tangan, dan pintu rumah Naiba pun tertutup kembali dengan kelegaan yang hampa. Di luar, aku mendapati sebuah perubahan mendadak. Langit, yang tadinya berwarna abu-abu lesu, tiba-tiba saja berubah menjadi hijau mint yang ceria, warna yang sangat asing, hampir menertawakan. Itu pasti ulah Pemimpin, sebuah ledakan mood yang hiperaktif, mungkin karena ia baru saja menemukan resep kue baru atau memenangkan permainan catur melawan ajudannya.
Aku merobek sachet kecil itu di tengah jalan, tanpa upacara, dan menghirupnya. Rasanya tidak seperti apa-apa; hambar, sejuk, seperti udara pagi yang terlupakan. Dalam sepersekian detik, aku merasakan beban yang biasa menimpa pundakku—beban untuk khawatir, beban untuk berencana, beban untuk peduli—menguap seperti embun. Langit hijau mint itu? Biarlah. Mungkin sebentar lagi ia akan berubah menjadi merah jambu nostalgia atau kuning cemas; itu bukan lagi urusanku. Hari ini, aku telah membeli hak untuk tidak bereaksi, sebuah kemewahan yang hanya bisa diberikan oleh seorang pengrajin keheningan di bawah langit yang paling bising di dunia. Aku berjalan gontai, menikmati kemalasan yang berbayar dan instan, kemalasan yang terasa sah, setidaknya, untuk hari ini.
Komentar
Posting Komentar