Langsung ke konten utama

Ancang-Anang Kaki Tonggeret Kontet

Di situlah ia, terperangkap di dalam labirin berdebu, sebuah ruang sempit yang kini menjadi batas terakhir dari semesta yang dapat ia pahami. Ia adalah seekor tonggeret kontet, namanya tak penting, sebab keberadaannya hanya diukur oleh repetisi yang melingkar, seekor serangga kecil yang nasibnya terpasung di antara serat-serat akustik yang compang-camping dan sirkuit-sirkuit tua yang menjadi kuburan bagi gema-gema masa lalu. Rongga gelap itu, tak lain adalah jeroan sebuah ampli gitar lusuh, artefak berkarat yang pernah dijamah oleh tangan Mas Jimmy Hendrix Ceper—seorang maestro lokal yang distorsinya lebih pahit daripada kopi tanpa gula. Bagi sang tonggeret, hidup kini tak ubahnya mendengarkan kaset yang putar ulang tanpa jeda: sebuah repetisi tak bertepi, menunggu dentuman selanjutnya, memaksa kesadaran untuk memaklumi kebingungan yang tak kunjung terurai di dalam hati.

​Hari itu, kesunyian yang mencekik digantikan oleh teror bunyi yang baru. Pemicunya, ironisnya, begitu remeh: senar Pyramid yang baru saja diganti pagi tadi. Bukan senar impor mewah berbalut janji surga sound yang paripurna, melainkan senar yang dibeli dari tukang fotokopi di ujung gang, dilayani oleh uni-uni yang raut wajahnya seolah memuat seluruh lelah warung sembako. Inilah kontradiksi pertama yang merobek logika sang tonggeret: material yang paling profan, lahir dari transaksi yang paling biasa, kini menjadi sumber dari kosmos yang paling liar. Ketika Mas Jimmy Hendrix Ceper mulai menyentuh enam kawat baja itu, yang seharusnya menghasilkan getaran musik, yang keluar justru adalah Amarah.

​Bukan amarah Mas Jimmy, bukan pula amarah uni-uni tukang fotokopi. Ini adalah amarah dari hari-hari yang terus berulang tiada henti, amarah dari jadwal yang sama, menu makan siang yang sama, dan janji-janji yang tak pernah ditepati—semua terakumulasi dan dimuntahkan melalui distorsi yang pekat, distorsi yang kini menjadi zat padat di udara. Setiap riff gitar elektrik yang menggelegar dari koil-koil speaker yang bergetar hebat itu bukan hanya menghasilkan dentuman musik yang penuh distorsi, melainkan juga menanggung beban kemarahan eksistensial.

​Tonggeret itu, dengan tubuhnya yang kontet dan sayapnya yang tak berguna di ruang sesak ini, mendapati dirinya hanyalah sepotong jiwa yang terperangkap dalam frekuensi. Ia mencoba memilah, memilah mana nada, mana kebisingan, mana musik, mana ratapan, namun semuanya teraduk menjadi satu pasta sonik. Di situlah ia menyadari peran barunya: bukan untuk berbunyi, bukan untuk melompat bebas, melainkan untuk memahami dan memaklumi kebingungan yang merongrong di dalam jiwanya. Kebingungan yang merongrong di mana kehidupan ini seolah-olah hanya sebuah penantian tanpa akhir, sebuah jeda panjang yang diisi oleh kegaduhan yang tidak berarti.

​Namun, di tengah-tengah pemakluman itu, datanglah klimaks yang memecah realitas. Dentuman riff gitar yang awalnya hanya suara, perlahan berubah menjadi fenomena meteorologis yang ganjil. Gema yang terkurung di dalam rongga ampli itu mulai beresonansi dengan urat nadi tonggeret. Tiba-tiba, distorsi itu berubah menjadi badai petir yang menggelegar, namun petirnya bukan berwarna perak atau putih, melainkan warna mejikuhibinu—merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu—meledak, tumpah, dan mencair di kegelapan.

​Melalui celah-celah grille ampli, tonggeret itu melihat bukan lagi dinding kamar yang suram, melainkan langit-langit yang melengkung dan patah. Distorsi itu, sungguh-sungguh, seakan memelintir ruang-ruang dimensi kekosongan illlahi. Ia menekuk waktu dini hari menjadi sebuah ilusi tanpa waktu. Langit, yang ia yakini sebagai kulit terluar dari dunia, sedikit retak, hanya sekitar 10 sentimeter, tetapi retakan itu cukup untuk menyuntikkan imajinasi ke dalam benaknya.

​Imajinasi ini adalah pelarian sekaligus penemuan. Sang tonggeret, yang sejak tadi hanya menjadi pendengar pasif, kini tersentak. Getaran udara yang tadinya menyiksanya kini memanggilnya. Ia harus ikut. Ia tidak lagi bisa menjadi serangga biasa yang menunggu akhir musim, ia kini adalah bagian dari gema yang mencari arti, sebuah fragmen dari badai yang mencari tempat untuk meledak. Dan arti itu, ia temukan bukan dalam pikiran, melainkan dalam gerak.

​Maka, di antara gelombang suara distorsi yang menekuk waktu dini hari, ia mulai bergerak. Tubuh kontetnya yang rapuh, yang seharusnya gemetar karena frekuensi tinggi, kini malah menguat. Ia melompat. Bukan lompatan kepanikan, melainkan lompatan ancang-ancang kaki. Ia pasang kuda-kuda, kuatkan kaki kiri yang sempat tersangkut di kain akustik, dan dengan momentum distorsi yang tak pernah berhenti, perlahan ia melakukan gerak two step ala hace masa kini. Gerakan itu adalah penolakan terhadap pemakluman, sebuah tarian yang mengatakan: jika hidup adalah kekacauan, biarlah aku menari di puncaknya. Jika artinya adalah ketiadaan, biarlah aku menjadi penari ketiadaan.

​Ia melompat, melompat lagi, dan dalam lompatan terakhirnya, ia merasakan dirinya telah melampaui batas serangga. Ia bukan lagi tonggeret kontet, melainkan gema itu sendiri. Ia hilang di antara distorsi yang tak pernah berhenti, melebur ke dalam warna mejikuhibinu, dan menemukan bahwa makna sejati dari repetisi adalah lompatan yang abadi, sebuah tarian yang menjadi bagian tak terpisahkan dari bunyi, dan dengan demikian, ia menjadi abadi dalam distorsi. Hingga dentuman riff berakhir, dan ia, telah lenyap, hanya menyisakan sunyi yang lebih gelap dari sebelumnya di dalam rongga-rongga Mas Jimmy Hendrix Ceper.

Komentar