Langsung ke konten utama

Cinta yang Tumbuh dan Cinta yang Terbentuk

Ada sebuah kata, hanya satu kata, namun di dalamnya bersemayam semesta yang tak terhingga. Kata itu: cinta. Kau menyebutnya saat pagi buta, dalam bisik yang lebih pelan dari embun yang jatuh. Kau meneriakkannya di tengah badai, dalam pekik yang serak oleh tangis dan amarah. Satu kata yang sama untuk dua dunia yang berbeda. Sebab ada sebuah cinta yang tumbuh dalam hangat dan peluk, dan ada cinta lain yang terbentuk dalam bentak dan pukul. Dan kita, makhluk malang yang mencoba memahami segalanya, berdiri di antara keduanya, bertanya-tanya.

Cinta yang tumbuh adalah sebuah pagi. Ia datang tanpa paksaan, seperti cahaya fajar yang perlahan merayap di ufuk, mewarnai langit kelabu dengan janji keemasan. Ia adalah aroma kopi dan roti panggang yang menguar di udara, sebuah kebiasaan kecil yang menjadi sauh bagi jiwa. Ia adalah tawa yang meledak karena lelucon hambar, atau keheningan nyaman saat membaca buku di ruangan yang sama. Cinta ini tidak pernah bertanya, ia hanya ada. Ia tidak menuntut, ia hanya memberi. Akarnya menjalar pelan-pelan, tak terlihat, mengikat dua hati dengan serat-serat sutra yang lebih kuat dari baja. Ia adalah kesabaran sebatang pohon yang menanti musim semi, sebuah kepastian yang menenangkan. Memaknainya semudah bernapas. Ia adalah kehidupan itu sendiri.

Lalu, ada cinta yang lain. Cinta yang terbentuk. Ia bukan pagi, melainkan sebuah bengkel pandai besi di tengah malam. Ia lahir dari benturan dua ego yang sekeras batu, yang terus-menerus beradu hingga percik apinya menerangi kegelapan. Ia adalah teriakan yang memecah sunyi, pintu yang dibanting, dan air mata yang jatuh tanpa suara sesudahnya. Ia adalah ketidaksempurnaan yang dipaksa untuk saling memaafkan, lagi dan lagi. Cinta ini bukanlah taman bunga, melainkan patung yang dipahat dari sebongkah marmer. Pahatnya adalah pertengkaran, palunya adalah kekecewaan. Setiap pukulannya menyakitkan, setiap serpihan yang terlepas adalah luka. Namun, dari setiap benturan dan hantaman itu, sebuah bentuk mulai terlihat. Bentuk dua manusia yang keras kepala, yang menolak untuk menyerah satu sama lain. Bentuk sebuah kesetiaan yang ditempa dalam api, bukan yang dihadiahkan oleh takdir. Memaknainya adalah sebuah perjuangan. Ia adalah bekas luka yang kau sentuh dengan lembut, dan kau sadar, kau tak akan menukarnya dengan kulit yang paling mulus sekalipun.

Beda rasanya, tentu saja. Sangat beda. Memaknai cinta yang tumbuh adalah seperti menyusuri aliran sungai yang tenang. Kau hanya perlu ikut arusnya. Tapi memaknai cinta yang terbentuk adalah seperti mendaki tebing terjal saat badai. Setiap pijakan harus diperjuangkan, setiap pegangan harus dicari. Yang satu adalah anugerah, yang lain adalah pencapaian.

Namun, bukankah semesta gemar bercanda?

Pada akhirnya, cinta yang tumbuh pun akan bertemu badainya. Akan ada hari di mana kehangatan pelukan terasa hambar, di mana keheningan yang nyaman berubah menjadi jarak yang menganga. Dan pada saat itulah, cinta yang tumbuh itu harus belajar bagaimana caranya terbentuk—bagaimana caranya terbentur pada kenyataan dan tidak pecah, bagaimana caranya terpahat oleh masalah dan tetap utuh.

Sebaliknya, di dalam bengkel pandai besi yang riuh itu, akan ada jeda. Saat palu diletakkan dan api meredup. Saat dua pasang mata yang lelah saling menatap di antara puing-puing amarah, dan menemukan kelembutan di sana. Sebuah pelukan canggung, sebuah usapan di punggung. Dan pada saat itulah, cinta yang terbentuk itu merasakan bagaimana rasanya tumbuh—bagaimana benih kelembutan bisa bersemi di tanah yang paling keras sekalipun.

Ya… pada akhirnya cinta itu tetap dimaknai sebagaimana namanya. “Cinta”. Entah itu tumbuh, terbentuk, terbentur, terhantam, terbanting, terpahat, terjerumus, tercapai, terlampaui, dan ter-ter selanjutnya. Ia adalah mozaik yang rumit dari semua itu. Ia adalah kebun bunga sekaligus bengkel pandai besi. Ia adalah bisikan sekaligus teriakan.

Mungkin kita tak perlu memilih. Mungkin kita tak perlu memaknainya secara terpisah. Mungkin cinta memang bukan kata benda, melainkan kata kerja. Sebuah proses tanpa akhir untuk terus tumbuh dan terus terbentuk, hingga napas terakhir. Dan di sana, di ujung perjalanan, kita hanya akan melihat satu wajah, dan kita tahu, inilah ia. Tak ada nama lain untuknya. Inilah cinta.

Komentar