Maka, kata-kata itu pun terucap. Bukan dari mimbar seorang filsuf. Bukan dari halaman-halaman buku tua berdebu. Kata-kata itu meluncur dari bibir seorang penabuh drum, seorang punk, seorang pemberontak dengan tato yang merajah kulitnya seperti peta pertempuran. I Gede Ari Astina, yang orang-orang kenal sebagai Jerinx, memekikkan sebuah mantra sederhana, sebuah kredo yang terdengar seperti ringkasan brutal dari eksistensialisme jalanan: hiduplah seperti ini hari terakhirmu, live your life like its your last every day, bersyukur, bercinta dan bertarung.
Dan kita berhenti sejenak. Di tengah deru lalu lintas yang tak pernah tidur, di antara notifikasi gawai yang terus-menerus menagih perhatian, di hadapan tenggat waktu yang mencekik. Hari terakhir? Konsep itu terasa asing sekaligus begitu dekat. Ia adalah horor sekaligus pembebasan. Kata-kata Jerinx bukan sekadar slogan untuk kaus oblong hitam yang dijual di festival musik. Ia adalah sebuah pertanyaan yang menelanjangimu: jika ini memang yang terakhir, apa yang akan kau lakukan dengan sisa napasmu?
Lalu ia memecahnya menjadi tiga pilar. Tiga kata kerja. Tiga imperatif.
Bersyukur.
Sebuah kata yang terdengar begitu saleh, begitu tenang, begitu jauh dari hingar-bingar panggung punk rock. Bersyukur? Untuk apa? Di negeri di mana keadilan sering kali menjadi barang dagangan, di mana harapan bisa layu sebelum berkembang, di mana nasib terasa seperti dadu yang dilempar oleh tangan-tangan tak terlihat?
Mungkin, inilah letak pemberontakannya. Syukur di sini bukanlah kepasrahan yang buta. Bukan penerimaan pasif atas segala ketidakberesan. Syukur ala hari terakhir adalah sebuah kesadaran radikal. Kesadaran untuk mengakui nilai dari secangkir kopi hitam di pagi hari, dari hangatnya matahari yang menerpa wajah, dari detak jantung yang masih berirama di dalam dada. Ini adalah rasa syukur seorang serdadu di medan perang yang masih bisa melihat fajar merekah, meski ia tahu maut bisa datang kapan saja. Ia bersyukur atas amunisi yang tersisa, atas rokok terakhir yang bisa ia hisap, atas udara yang ia hirup untuk meneriakkan perlawanan. Bersyukur, karena dengan bersyukur, kau menyadari apa yang kau miliki. Dan dengan menyadari apa yang kau miliki, kau tahu persis apa yang layak untuk dipertahankan.
Bercinta.
Setelah kesadaran itu datang, apa selanjutnya? Bercinta. Lagi-lagi, sebuah kata yang terasa lembut untuk dunia yang begitu keras. Namun, jangan salah. Bercinta di sini melampaui urusan ranjang. Ia adalah antidot dari keterasingan. Di dunia yang mendorong kita untuk menjadi individu-individu yang terisolasi, yang saling berkompetisi dalam kotak-kotak karier dan status sosial, bercinta adalah tindakan subversif.
Ia adalah tentang meruntuhkan dinding. Tentang menemukan kehangatan pada kulit manusia lain. Tentang percakapan larut malam yang membuatmu merasa tidak sendirian di alam semesta. Tentang gairah yang mengingatkanmu bahwa kau adalah makhluk yang hidup, bernapas, dan merasakan—bukan sekadar roda gigi dalam mesin raksasa bernama masyarakat. Bercinta adalah pengakuan atas kemanusiaan, baik pada dirimu maupun pada orang lain. Di hari terakhirmu, kau tidak akan menghitung berapa banyak uang yang kau kumpulkan atau berapa tinggi jabatan yang kau raih. Kau akan mencari wajah-wajah yang pernah kau tatap dengan kasih, tangan-tangan yang pernah kau genggam dengan erat. Bercinta adalah afirmasi kehidupan itu sendiri, sebuah penciptaan kecil di hadapan kebinasaan yang agung.
Bertarung.
Dan inilah puncaknya. Inilah konsekuensi logis dari dua pilar sebelumnya. Jika kau bersyukur atas hidupmu, dan jika kau telah mengisi hidup itu dengan cinta, maka kau tidak akan tinggal diam ketika melihat kehidupan dan cinta itu terancam. Kau akan bertarung.
Bertarung melawan apa saja yang mencoba merenggutnya. Melawan ketidakadilan yang menindas mereka yang kau cintai. Melawan sistem yang merampas hakmu untuk bersyukur atas tanah dan airmu. Melawan kebohongan yang mencoba membunuh kebenaran. Melawan apatisme di dalam dirimu sendiri yang membisikkan bahwa semua perlawanan itu sia-sia.
Pertarungan ini tidak selalu berarti adu fisik di jalanan. Ia bisa berupa tulisan yang kau goreskan, lagu yang kau nyanyikan, karya yang kau ciptakan. Ia adalah keberanian untuk mengatakan "tidak" ketika semua orang mengatakan "iya". Ia adalah keteguhan untuk berdiri tegak di atas prinsipmu, bahkan jika kau harus berdiri sendirian. Di hari terakhirmu, tidak ada lagi ruang untuk kompromi yang membusukkan jiwa. Yang ada hanyalah sebuah keharusan untuk meninggalkan jejak, sebuah kesaksian bahwa kau pernah ada di sini, dan kau tidak pergi tanpa perlawanan.
Maka, tiga kata itu—bersyukur, bercinta, bertarung—menjadi sebuah siklus yang tak terpisahkan. Kau bertarung untuk apa yang kau cintai. Kau mencintai apa yang membuatmu bersyukur. Dan rasa syukur memberimu kekuatan untuk terus bertarung.
Dan kata-kata itu terus bergema, di antara deru mesin dan keheningan malam. Bukan lagi milik penabuh drum dari Bali itu semata. Ia menjadi milik siapa saja yang merasa bahwa waktu mereka hampir habis, dan bahwa setiap detik yang tersisa terlalu berharga untuk disia-siakan. Ia adalah pengingat yang brutal dan indah: bahwa hidup, pada akhirnya, adalah tentang bagaimana kita mengisi jeda singkat antara kelahiran dan kematian. Seolah esok tak pernah ada.
Komentar
Posting Komentar